ACARA BEDAH BUKU REPUBLIK DALAM PUSARAN ELITE SIPIL DAN MILITER

Sejarah politik Jawa Timur memiliki dinamika yang unik dan berbeda dibandingkan dengan sejarah provinsi lainnya. Sejak zaman kemerdekaan 1945, perjuangan di Jawa Timur tidak lepas dari campur tangan para elite militer dan politik. Menariknya, kedua kubu menggunakan strategi kearifan lokal untuk meredam konflik. Strategi ini mewakili identitas khas Jawa Timur yang mampu menyebarkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa.

Acara bedah buku Republik Dalam Pusaran Elite Sipil dan Militer karya Dr. Ari Sapto, M.Hum ini diselenggarakan Senin, 12 November 2018. Pukul 09.00-12.00 WIB Di Aula Ki Hajar Dewantara, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Malang. Pembedah utama buku ini adalah Dr. Dewa Agung Gede Agung, M.Hum (Dosen Jurusan Sejarah Universitas Negeri Malang).

Pembedah menyatakan bisa dikatakan buku ini merangkum sejarah daerah atau lokal Jawa Timur dengan periode sejak proklamasi (1945) sampai dengan pengakuan kedaulatan (1949). Kesepakatan elite militer dan politik dalam membentuk negara ditempuh lewat proses yang panjang. Diplomasi sebagai cara yang moderat dan tepat untuk perjuangan mencapai kedaulatan. Dalam kondisi semacam ini elite mempunyai peranan penting, walaupun hubungan elite tersebut tidak selalu harmonis antara pusat dengan daerah, begitu juga antara Jakarta dengan Jawa Timur.

Uniknya, Jawa Timur memanfaatkan kearifan lokal dalam melakukan diplomasi politik. Hal ini disampaikan penulis buku bahwa pandangan elite Jawa Timur terhadap pemerintahan dan perjuangan adalah berdasarkan keairfan lokal soko guru; Somo, dono, dendo, wasesoSomo artinya bersama-sama. Dono artinya memberikan sesuatu kepada rakyat. Dendo artinya memberikan hukuman bila melakukan kesalahan. Waseso artinya adanya kekuatan militer. Prinsip yang dipakai untuk diplomasi adalah yok opo enake, kalah cacak menang cacak.

Ratusan peserta yang hadir dari kalangan akademisi sejarah antusias menyimak dan berdiskusi dengan penulis dan pembedah. Para peserta mendapat mengetahui fakta baru juga bahwa Media menggugah semangat perjuangan dengan kesenian seperti; kelompok sandiwara Panca Warna, ketoprak Krido Budoyo, ludruk Sekar Mulya, Wayang Suluh, ceritra yang diangkat umumnya terkait dengan suasana perjuangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*